Rumah Kejutan Sony Dwi Kuncoro


KOMPAS/ARBAIN RAMBEY
Sony Dwi Kuncoro santai di teras rumah.

Rumah atlet bulu tangkis Sony Dwi Kuncoro hanya berjarak beberapa langkah dari gerbang pelatnas bulu tangkis di Cipayung, Jakarta Timur. Saat tengah dibangun beberapa tahun lalu, rekan atlet dan pengurus PBSI tak tahu rumah tersebut milik Sony.

Begitu juga Gading Safitri yang menjadi istri Sony sejak Juli lalu, tak tahu ternyata telah disediakan rumah di Jakarta oleh Sony.

”Waktu datang ke Jakarta sebelum menikah, dia sempat bilang supaya saya punya rumah di sekitar sini. Saya sih hanya ’iya-iya’ saja. Padahal, saat itu saya sedang membangun rumah ini,” kata Sony.

Di sofa berwarna hitam yang diselaraskan dengan warna abu-abu tembok rumah, Sony bercerita tentang rumah yang dibangun dari nol tersebut. Atlet tunggal putra nomor satu pelatnas ini awalnya tak berniat memiliki rumah yang jaraknya dekat dengan tempat latihan. Apalagi, sejak menjadi anggota tim nasional Indonesia tahun 2001, Sony tinggal di asrama pelatnas, sesuai peraturan PB PBSI untuk atlet yang belum menikah.

”Saya hanya berpikir ingin punya rumah simpel dan tidak terlalu jauh dari sini, seperti di daerah Cibubur. Kemudian, ada yang menawari tanah. Ada yang jual tanah butuh uang,” kata Sony.

Sebelum membeli tanah tersebut, Sony tinggal di sekitar area pelatnas. Ia tinggal di rumah rekan dekat yang dia anggap saudara yang ia panggil Pak Hartono. ”Beliau seperti saudara sendiri. Saya disuruh menempati kamar di rumah beliau,” tutur Sony yang menjuluki Pak Hartono sebagai manajer.

Sony pun memutuskan membeli tanah tersebut menjelang akhir tahun 2005. Tak seperti tujuan awal, Sony justru berniat mengubah tanah berukuran 15 x 4 meter itu untuk dijadikan gudang penyimpan motor modifikasi koleksinya. Sebelumnya, motor-motor itu berada di gudang Hartono.

Pikiran Sony berubah ketika dia mulai membuat fondasi. Sebuah motor dia jual untuk membuat fondasi pada tanah yang berstruktur menurun dari permukaan jalan. ”Baru kemudian saya berpikir, mengapa enggak sekalian saja bikin rumah. Akhirnya, saya beli sisa tanahnya, jadi 15 x 6 meter,” kata Sony.

Rancangan sendiri

Struktur tanah yang tidak rata memang menyulitkan perancangan rumah. Meski begitu, dalam membangun rumah Sony tak melibatkan arsitek. Ia hanya dibantu Hartono dan para pekerja bangunan.

Untuk desain, Sony berbekal majalah tentang rumah. Atlet asal Surabaya ini menggambar sendiri desain rumahnya. ”Saya memang suka menggambar. Saya membayangkan kalau ruangnya seperti ini bagaimana, atau kalau dibeginikan jadinya bagaimana,” ujar Sony.

Fondasi pun dibuat tak lama setelah tanah dibeli, tetapi proses pembangunan rumah berjalan cukup lama, yaitu dua tahun. Ini termasuk masa rehat selama enam bulan. ”Pembangunannya memang mencicil. Setiap ada uang, saya titipkan ke tukang. Pembangunan baru dikebut saat finishing, waktu saya punya rezeki agak banyak, sekitar akhir tahun 2007,” kata Sony.

Jelang selesai dibangun inilah banyak orang akhirnya tahu rumah itu milik Sony. Termasuk teman-temannya di pelatnas. Karena Sony harus tinggal di asrama, rumah itu pada awalnya jarang dia tempati. Tak banyak barang mengisi rumah. Kompor gas yang ada pun tak pernah dia pakai karena tak ada elpijinya.

Baru setelah Gading diboyong ke Jakarta tiga bulan lalu, isi rumah mulai lengkap. Di ruang tamu terdapat dua sofa hitam dan televisi. Sentuhan tangan Gading juga terlihat dari adanya peralatan masak, lemari es di dapur, hingga beberapa tanaman dalam pot di teras rumah yang naik sekitar 1,5 meter dari permukaan jalan.

Bentuk rumah yang memanjang dari depan ke belakang membuat Sony tak menempatkan banyak perabotan di ruang tamu, selain sofa dan TV. ”Diisi sofa ini saja sudah penuh. Waktu di toko, sofa ini kelihatan kecil. Sesudah dibawa ke sini, jadi besar karena ruangan kecil,” kata Sony sambil tertawa.

Bersebelahan dengan ruang tamu terdapat kamar tidur utama lengkap dengan kamar mandi di dalam. Sementara di bagian belakang lantai ini terdapat dapur mungil. Dari jendela dapur, Sony biasa melihat ikan di empang tetangga.

”Biarpun kecil, bagi saya sudah cukup punya rumah seperti ini,” kata Sony .

Ia tidak berniat menjual rumahnya meski suatu saat sudah tidak lagi menjadi atlet. Ia mencintai rumah, dan istrinya, tentu saja.

Sumber : Kompas Minggu, 18 Oktober 2009 | 02:46 WIB

Yulia Sapthiani

2 Komentar

Filed under Bunga Rampai UNIK/Unique THINGS, INFO/Information ;

2 Respon untuk Rumah Kejutan Sony Dwi Kuncoro

  1. Ternyata ka sony sudah pya istri ya..kenapa ega di publikasi kan ke infotaiment..jujr aq syng bgt sama km..tp aq kecewa

    • Aulia Untsa Hanifan

      hm….iy2 tuh kget bgt trnyata ka soni udh nikah….tp aq ttep dkung kkk coz kk fans bultang aq…^_^smoga hdup bhagia ya kaaa.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s