Masa kecil di kanal kota Pangkalan Brandan.



Puluhan tahun yang lalu, kota kecilku itu belumlah seramai sekarang ini. Udaranya pun belum sepanas saat ini, karena rumah dan toko toko belunlah serapat sekarang.

Pohon sena masih tumbuh dengan rindang di sepanjang jalan Masjid, sampai ke Jalan Cipto,yang kini berganti nama dengan jalan Sutomo hingga ke Pelawi. Di jalan itulah aku dulu sering berlari lari kecil menuju sekolahku dekat waterleiding, menara air waktu itu di simpangan jalan Kalimantan dengan jalan Sumatera.

Di dekat waterleideng  itu banyak sekolah ada sekolah PGA (Pendidikan Guru Agama) yang didirikan oleh NU, SR(Sekolah Rakyat- SD sekarang)  Negeri 5 dan kalau tidak lupa  SR negeri 3 juga berlokasi di situ dan agak masuk sedikit ke Jl.K.H.A.Dahlan terletak pula SR Muhammadiyah.Lokasi ini saat itu dinamai juga Balai Umum karena sering dilaksanakan rapat-rapat atau pertemuan yang bersifat umum dan melibatkan banyak orang.

Rumah merangkap toko (ruko) pada waktu itu masih terbuat dari kayu berdinding papan  dan beratapkan seng, diselang sling pula yang masih beratapkan daun nipah yang masih banyak terdapat tumbuh di pinggir rawa-rawa diwilayah tersebut.

laut di muka Kp.Perlis(foto:Sir Joel/Beranda Brandan)

laut di muka Kp.Perlis(foto:Sir Joel/Beranda Brandan)

Pada sekitar tahun 1961 terjadi kebakaran besar di blok jalan Mesjid, Kartini dan sebagian jalan Dempo. Menurut berita koran waktu itu lebih kurang seribuan rumah turut menjadi korban.termasuk rumah-rumah kecil yang terletak dibagian dalam blok tersebut.Secara berangsur-angsur, rumah-rumah disitu mulai dibangun dengan memakai bahan beton dan batu bata.

Membelah  dua kota Brandan, terdapat sebuah parit besar yang dibangun pemerintah Belanda, guna menampung luapan air pasang yang berasal dari laut.Karena seperti diketahui, empat tahun sekali terjadi arus pasang permadani yang cukup besar.Parit yang lebih dikenal dengan sebutan kanal ini, mempunyai kenangan tersendiri di ingatan saya. Juga bagi anak-anak sebaya aku waktu itu.Karena di sinilah aku untuk pertama kalinya belajar berenang selain di pinggir laut yang terdapat di lorong Gandi. terusan jalan Mesjid arah ke laut.

Pada waktu saya masih di sekolah SR , kanal itu masih terawat baik. Pada saat air surut, lantai dasaarnya yang terbuat dari batu beton masih kelihatan bersih dan tidak berlumut.Dibagian dasar kanal ada parit kecil.

Pada masa-masa  itu bila jam istirahat belajar, murid-muris disamping kanal itu sering bermain di dalam kanal. Berlari menuruni tebing yang satu dan menyeberang ketebing yang disebelah depannya. Tapi hal itu cuma bisa dinikmati anak-anak di zaman kami. Pada generasi berikutnya, masa anak saya, hal itu sudah tak mungkin dilakukan, karena kanal itu sudah tertutup lumpur dan sampah buangan yang menyebabkan airnya menjadi hitam.

Kalau hujan lebat mengguyur kota, air yang berasal dari Pelawi dan Alurdua tumpah ke dalam kanal dan dengan derasnya menuju ke lautan.Kami sering bermain sesudah berhenti hujan .Permainan yang menarik adalah melemparkan sepotong kayu broti yang diikat dengan tali, kemudian dilemparkan ke dalan kanal.”Perahu” kayu itu dengan derasnya meluncur sampai ke bawah jembatan .Tergantung panjangnya tali, ‘perahu broti’  itu pun berlari mengikuti alur kanal.

Ada juga anak-anak yang lebih besar berenang meluncur mengikuti derasnya air.Kemudian berhenti di satu titik, naik kedarat, menyusuri pinggir kanal mengulangi lagi ketempat awal dan meluncur lagi.Tapi permainan ini pernah menimbulkan korban,seorang anak tak dapat mengendalikan diri dan terbentur ke tembok pinggir kanal.Pingsan dan akhirnya meninggal karena hanyut sampai ke laut.

Tentang laut dan kanal ini, ada sebuah cerita yang pernah saya alami, tapi di lain kesempatan akan saya ceritakan di blog ini. Ikuti terus ya sahabat khususnya yang berasal dari kota Brandan, mana tahu salah seorang diantara sahabat adalah kenalan saya atau anak dari kenalan saya yang pernah sama-sama mandi ala ‘suku primitif’ alias ,maaf – telanjang.  di kanal itu. Sampai dilain kesempatan.

6 Komentar

Filed under Tak Berkategori

6 responses to “Masa kecil di kanal kota Pangkalan Brandan.

  1. aku kangen dengan kota kecil tempat kelahiranku .
    p.brandan kota pertama dimana aku mengenal dunia .
    dimana aku mulai belajar .
    disana pula keluarga ku berada .
    aku kangen mereka semua .

  2. maysarah nst

    salam kenal sy juga org brandan, wkt kecil sy juga suka mandi di paret kanal ,dl parit kanal sangat bersih klo air pasang ya. klo sy plng sklh sy jln diparit ny krn msh bersih.

  3. Dwi Kelana Putra

    Salam hangat dari Palembang,

    43 tahun yang lalu aku pertama kali melihatmatahari di kota ini…. kota yang penuh kenangan. Aku sangat bangga dengan Brandan yah kota yang banyak menelurkan ofrang ternama ( kota kecil dengan nama besar )

    Masih bnayak saudaraku yang tinggal disana.. Ada ada laki-laki aku, mungkin kalo orang brandan akan tahu dnegan panggilan HENDRA JOWO…..yanh adeku seorang mechanic yamah yg hebat….

    Nama kecil aku di Brandan sering dipangil WIWIK ndoble…. aku tinggal di Jl. Sukamulia / Gotong Royong…..

    Salaaaaaammmm…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s